Dalam pidatonya, Trump mengungkit sejumlah konflik internasional yang menurutnya berhasil dicegah. Dia mengklaim telah mencegah perang antara Korea Utara dan Korea Selatan, Jepang dan Korea Utara, serta China dan Taiwan.
Namun, Trump tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut. Dia juga menegaskan bahwa penghargaan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada Amerika Serikat yang diwakilinya sebagai presiden.
Kekecewaan tersebut bukan kali pertama disampaikan Trump. Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, dia berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian.
Komite Nobel Norwegia mengumumkan Navi Pillay sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026 pada Jumat (9/10). Pillay merupakan tokoh hukum internasional berusia 85 tahun yang berasal dari Afrika Selatan.
Dia memiliki rekam jejak panjang dalam penegakan hukum internasional, termasuk memimpin pengadilan genosida Rwanda. Pillay juga pernah memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen (COI) pada PBB yang menyimpulkan bahwa genosida sedang terjadi di Jalur Gaza.
Saat mengumumkan penghargaan tersebut, Ketua Komite Nobel Norwegia Jorgen Watne Frydnes menyebut Pillay berperan penting dalam memastikan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili.