Para anggota Kelompok ASKHA ini juga secara aktif dilibatkan dalam berbagai jenis pelatihan, misalnya pelatihan pembuatan ecoprint.

"Kalau bapak-bapaknya pergi nelayan itu kadang-kadang kan suka ada masa sulitnya, ya. Jadi, ada kegiatan gitu yang bisa menghasilkan uang," ucap Asmawiyah.

Upaya-upaya tersebut mendorong sistem pemilahan dan pengolahan sampah di Pulau Kelapa menjadi semakin kokoh. Berbagai lapisan warga, mulai dari anak-anak sekolah hingga dewasa, akhirnya memiliki kesadaran dan kemampuan untuk terlibat dalam inisiatif lingkungan.

Asmawiyah mengungkapkan bahwa seluruh inisiatif yang ia lakukan awalnya berangkat dari tuntutan untuk mengelola sampah. Namun, seiring berjalannya waktu, tuntutan itu berubah menjadi tanggung jawab yang membawakan manfaat.

"Untuk melepas pun saya enggak bisa gitu. Soalnya kan masih jarang orang-orang yang mau setulus hati gitu. Kadang-kadang kan mereka itu emang kendalanya kadang-kadang bentrok sama kerjaan," ucap Asmawiyah.

Dari kesadaran individu menjadi gerakan kolektif, aksi nyata dari figur-figur seperti Asmawiyah hendak disorot melalui program Pilah Olah Sampah Heroes 2026.

Program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta satu ini bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap para pahlawan lingkungan yang memiliki aksi nyata dan turut mengajak warga lainnya agar peduli terhadap sampah.

Per Jumat (6/11), sebanyak 15 peserta telah melalui tahap verifikasi lapangan. Selanjutnya, peserta akan diseleksi kembali untuk dapat mengikuti tahap penjurian final.

Nantinya, pemenang dari program Pilah Olah Sampah Heroes akan diberikan penghargaan secara langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Acara penganugerahan akan dilangsungkan pada Selasa (10/11) mendatang.