NADIKABAR.COM — Pertunjukan drama musikal Calon Arang yang diproduksi oleh EKI Dance Company bersama Indonesia Kaya memulai pentas pertamanya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, 17 September 2026 malam.

Sebagai sebuah produksi yang mengintegrasikan modernitas dengan naskah cerita rakyat yang berfokus pada sisi kemanusiaan karakter, pementasan ini menyisakan pertanyaan pada akhir cerita karena diselesaikan tergesa-gesa, membuat penonton awam sukar mengerti apa yang sebenarnya terjadi ketika Dewi Durga menampakkan wujudnya.

Pertunjukan pertama yang digelar pada Kamis malam tersebut merupakan pembuka dari rangkaian jadwal pentas yang berlangsung hingga 20 September 2026.

Pementasan itu disutradarai oleh Ara Ajisiwi dan diadakan untuk memperingati ulang tahun ke-30 EKI Dance Company.

Pendekatan penceritaannya bertahan meniadakan pembagian karakter secara hitam-putih, yang biasanya melekat pada sosok Calon Arang di dalam legenda masyarakat Jawa dan Bali.

Cerita musikal itu mengisahkan Nyi Rangda (nama asli Dayu Datu), seorang janda dari Desa Girah yang diperankan oleh Ara Ajisiwi.

Berbeda dari penggambaran tradisional yang memperlihatkan sosok itu seperti penyihir tua, pertunjukan itu menampilkan Calon Arang sebagai sosok perempuan cantik yang mengelola padepokan sisya (sebutan untuk murid-muridnya).

Rambutnya ikal, panjang, hitam, bervolume, dan meski ia memakai riasan wajah teatrikal, itu tidak memudarkan kecantikannya.

Di tengah penampilannya, sang Calon Arang biasanya akan memperkenalkan diri kepada penonton sambil mengajarkan sebuah mantra yang sederhana sebagai sarana interaktif di atas panggung. Mantra itu berbunyi: "Yang di siang (dijawab penonton: yang di malam), Balaskan semua (dijawab penonton: dendam)".

Tokoh utama juga memperlihatkan kecemasannya terhadap masa depan putrinya, Ratna Manggali, yang diperankan oleh Nala Amrytha. Ratna Manggali sendiri, menurut Calon Arang, artinya permata yang membawa keberuntungan.

Calon Arang sangat menyayangi putrinya, sehingga sangat khawatir Manggali terdampak langsung oleh perlakuan warga desa yang mengucilkan keluarganya hanya karena ia seorang janda.