Di sisi infrastruktur fisik, sejumlah transformasi menjadi wajah nyata capaian UMY. Solar panel di gedung-gedung baru, seribu titik biopori di kawasan parkir, hingga rumah sampah yang mengolah limbah tanpa menyisakan buangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dibangun secara bertahap sebagai fondasi menuju kampus yang benar-benar berkelanjutan.
"Dalam gedung-gedung yang baru itu nanti akan menggunakan solar panel, jadi sudah tidak berbasis listrik konvensional," kata Dyah Mutiarin.
Selain solar panel pada bangunan baru, UMY juga rutin melakukan audit energi di setiap unit kerja. Audit ini bertujuan mengidentifikasi unit yang menggunakan energi secara berlebihan agar dapat segera dilakukan efisiensi.
Untuk menjaga daya resap air, UMY telah menanam 1.000 titik biopori di area parkir seluruh gedung kampus. Program ini berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan pohon dan area vegetasi yang ada di lingkungan kampus.
Di sisi pengelolaan sampah, ia mengklaim UMY sudah tidak lagi bergantung pada TPA. Sampah organik maupun anorganik diolah secara mandiri melalui fasilitas yang disebut rumah sampah.
"Kita sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri dan tidak tergantung pada TPA lagi. Tidak ada lagi sampah yang dibuang ke TPA, karena kita sudah punya rumah sampah yang menghasilkan kompos," tuturnya.
Selain rumah sampah, UMY tengah membangun lahan integrated farming di kawasan Ngrame, Kasihan, yang nantinya berfungsi mengelola sampah plastik maupun organik secara terpadu. Menurutnya, UMY bahkan tengah merancang teknologi untuk mengubah sampah organik menjadi sumber listrik skala kecil, misalnya untuk mengisi daya ponsel.
Pengelolaan air pun turut menjadi perhatian. Air bekas wudhu di masjid kampus dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman, sementara sebagian kebutuhan penyiraman lainnya memakai air dari telaga buatan di lingkungan kampus.
Selain infrastruktur fisik, penguatan kelembagaan, integrasi kurikulum, dan penegasan identitas institusi menjadi tiga fondasi non-fisik di balik capaian UMY. Ketiga aspek ini berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur fisik yang selama ini menjadi wajah paling terlihat dari transformasi kampus berkelanjutan UMY.
Dyah menjelaskan penguatan kelembagaan diwujudkan lewat Sustainability Center, yang dibentuk untuk memperkuat implementasi dan standardisasi program keberlanjutan di seluruh unit kampus.
"Sustainability Center ini kita bentuk bersama dengan Badan Perencanaan dan Reputasi Global atau BPRG, kemudian juga bidang sumber daya, dan bidang infrastruktur. Kita melakukan penguatan implementasi serta merumuskan standarisasi," imbuh Dyah.