NADIKABAR.COM — Suasana di area Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, Kamis (27/8/2026), tampak semarak. Sejumlah stan dari empat kelurahan di Kecamatan Arcamanik dipenuhi beragam hasil inovasi pengelolaan sampah dari masing-masing wilayah.

Ada kelurahan yang membawa boks-boks maggot untuk pemanfaatan sampah organik. Di stan lainnya, limbah plastik disulap menjadi berbagai bentuk anyaman.

Sementara itu, satu stan turut memperkenalkan generator listrik yang memanfaatkan minyak jelantah. Warga dan peserta yang hadir tampak antusias melihat berbagai upaya pengelolaan sampah tersebut.

Berbagai inovasi itu dipamerkan dalam Gebyar HI-CARE: Zero Waste yang digelar Universitas Islam Bandung (Unisba). Dalam program tersebut, Unisba melibatkan sekitar 500 mahasiswa dan 100 dosen yang diterjunkan ke 54 RW di Kecamatan Arcamanik untuk mengelola sampah.

Rektor Unisba Harits Nu'man mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk terlibat langsung menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait sampah.

"Ini merupakan kolaborasi dan sinergi tim redaksi pemerintah dan dunia pendidikan, tim redaksi Pemkot dan Kementerian Pendidikan, dan juga mitra yang tentunya berkontribusi dalam mendukung program ini," jelas Harits saat ditemui selepas acara.

Acara tersebut sekaligus juga merupakan bagian dari rangkaian Milad Unisba ke-68 sekaligus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

"Kita kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, untuk kegiatan PKM dalam rangka Milad Unisba ke-68, khususnya di wilayah Arcamanik," lanjutnya.

Menurut Harits, keterlibatan kampus dalam persoalan sampah tak cukup hanya dengan edukasi. Ia mengatakan, kampus perlu memahami persoalan yang terjadi di lapangan, untuk kemudian merumuskan pendekatan yang sesuai kebutuhan.

Oleh karenanya, ia memaparkan, program HI-CARE: Zero Waste Unisba diawali dengan pemetaan masalah atau asesmen. Dari sana, bentuk intervensi baru dirumuskan.

"Need assessment itu menjadi hal utama. Setelah paham akar masalahnya bagaimana, kemudian barulah kita analisis. Mana yang paling tepat, teknologi dulu, atau edukasi dulu. Inilah pentingnya bagaimana kita melakukan fase dalam Zero Waste," tuturnya.

Ia menjelaskan, penyelesaian persoalan sampah dilakukan melalui dua pendekatan, yakni rekayasa sosial dan rekayasa teknologi.