Otoritas Prancis telah mengakui "kehilangan kendali" di tengah kerusuhan yang meletus di jalanan pada akhir pekan lalu, saat sekelompok pemuda yang memakai penutup wajah terlibat bentrok dengan polisi, menjarah toko-toko, dan merusak bangunan publik.

Menteri Kehakiman Prancis, Gerald Darmanin, mengatakan bahwa 2.700 orang diamankan oleh polisi sejak Sabtu (17/10) lalu, dan sebanyak 217 orang di antaranya telah dijebloskan ke dalam penjara.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Prancis Sebastien Lecornu bertekad mengerahkan personel kepolisian secara besar-besaran untuk menghadapi aksi protes lanjutan. Langkah ini diambil setelah unjuk rasa pekan lalu berujung kerusuhan.

Dilansir AFP, Rabu (21/10/2026), Lecornu mengakui bahwa respons keamanan yang diberikan sebelumnya belum memadai dan berjanji akan menerapkan pendekatan yang lebih tegas dalam menghadapi gelombang unjuk rasa berikutnya.

"Pengerahan aparat untuk Sabtu (24/10) mendatang akan berskala besar," tegas PM Prancis tersebut.

Dia menuduh kelompok-kelompok radikal ultra-kiri telah menyusun "rencana pemberontakan" yang memicu kerusuhan tersebut.

Gambar-gambar yang menunjukkan bentrokan demonstran dan polisi, aksi massa yang menjarah toko-toko bahkan butik mewah, dan bangunan yang dibakar pada akhir pekan lalu telah mendorong sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan China, untuk merilis imbauan perjalanan bagi warga negara mereka.

Otoritas Prancis, pada Senin (19/10), mengumumkan pemberlakuan jam malam parsial di Paris dan beberapa kota lainnya. Lecornu menyatakan bahwa jam malam tambahan akan diberlakukan pada Selasa (20/10) di lokasi-lokasi yang membutuhkan.