"Ini memang sedang kita kerjakan, memang tidak mudah. Kemarin sempat bersih, sekarang tumbuh lagi," ucap Maruli.

"Jadi terjadi pendangkalan, sehingga akhirnya muncul kembali dengan cepat. Tapi akan kami diskusikan solusinya, sehingga nanti ketika musim penghujan bisa digarap kembali," kata Maruli menambahkan.

Upaya pembersihan Situ Bagendit oleh personel TNI AD dilakukan sejak pertengahan tahun 2025 lalu. Dari total 87 hektare lahan di Situ Bagendit, 56 hektare di antaranya tertutup gulma atau tanaman liar, seperti eceng gondok dan teratai.

Banyaknya tumbuhan liar ini, menjadi ancaman utama terhadap eksistensi Situ Bagendit sebagai tempat pariwisata legendaris sekaligus pusat perekonomian warga setempat. Sebab, gulma menutup danau, yang menjadi daya tarik utama di Situ Bagendit.