Jika makanan dimasak dan langsung disajikan di lingkungan pondok, pengawasan terhadap kualitas dan keamanan makanan dinilai lebih mudah dilakukan.

"Kalau jumlahnya 2.500 sampai 2.830 porsi, tentu kalau masak dari jauh kemudian dikirim, ada jeda waktu. Kalau kami kelola sendiri, porsinya terukur, masak langsung, konsumsi langsung. Risikonya bisa diminimalkan," jelasnya.

Ia menegaskan perubahan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program MBG. Sebaliknya, pihak pondok tetap mendukung program tersebut, tetapi menginginkan sistem penyaluran dan pengelolaannya diperbaiki.

"Programnya tetap kami dukung. Yang kami harapkan adalah sistemnya disempurnakan supaya lebih aman dan berkelanjutan," imbuhnya.

Konsep ini nantinya dikelola langsung oleh pondok dengan melibatkan warga sekitar dan alumni. Warga di sekitar pondok diharapkan dapat ikut terlibat sehingga program tersebut sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Sementara pengelolaan teknis makanan akan melibatkan alumni pondok. Dengan demikian, KH Abdul Wahid Harun berharap dirinya dapat tetap fokus pada kegiatan pendidikan, pembinaan santri, serta komunikasi dengan para wali santri.

"Yang mengelola nanti alumni. Warga sekitar juga bisa diberdayakan. Jadi selain kontrol kualitas lebih dekat, masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat," terangnya.