"Teman-teman saya selalu panggil saya orang termuda di dunia, tapi itu cuma percandaan," kenangnya.
Wilang mengaku tantangan yang ia temui bukan di bangku kuliah, tapi di bangku sekolah. Saat menjadi seorang siswa, Wilang sering terhambat mengikuti aktivitas di luar sekolah karena tidak memenuhi persyaratan umur.
Salah satunya ketikaWilang ingin mendaftar beasiswa sekolah menengah atas di luar negeri saat masih berusia 12 tahun, sedangkan usia minimal pendaftar adalah 15 tahun. Kendati demikian, cita-citaWilang untuk belajar di luar negeri tercapai di UGM.
Pada semester lima hingga enam, Wilang mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di Faculty of Agriculture, Yamagata University, Jepang. Di sana, Wilang melakukan penelitian di sebuah laboratorium bernama Laboratory of Forest Products dengan mengkaji tanaman Phellodendron amurense Rupr., atau yang dikenal sebagai Amur cork tree. Tanaman tersebut telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Jepang.
Penelitian Wilang dituangkan dalam skripsi berjudul "Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr." yang berfokus pada identifikasi metabolit sekunder pada ekstrak kulit batang dan daun. Proses penelitian tersebut diselesaikan Wilang ketika berada di Jepang.