Sebelumnya, sutradara Korea Selatan, Lee Hwan-kyung juga menggarap film “Miracle in Cell No. 7” versi Indonesia, yang merupakan remake dari film Korea dengan judul yang sama.
Dengan mengambil latar Indonesia, Sutradara Lee ingin mengangkat nilai-nilai yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, seperti keluarga, keyakinan, dan semangat kebersamaan.
Lee menegaskan bahwa film “Gasigogi” bukan sekadar mengulang formula emosional dari film Korea, melainkan sebuah karya baru yang tumbuh dari nilai-nilai dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Ia menggambarkan “Gasigogi” sebagai kisah tentang Jiwa, seorang ayah berhati mulia yang rela memberikan seluruh hidupnya demi menyelamatkan putranya, Juna, yang mengidap kanker darah.
“Seperti seorang ayah yang memberikan segalanya untuk anaknya, saya ingin mencurahkan seluruh kemampuan dan hati saya untuk menciptakan hadiah berharga bagi keluarga ini,” tutur Lee Hwan-kyung.
Judul sementara “Gasigogi (가시고기)” terinspirasi dari pengorbanan luar biasa seekor ikan stickleback dalam menjaga keturunannya. Ikan jantan dari spesies ini akan tetap tinggal untuk menjaga telur-telurnya seorang diri, melindunginya dari serangan predator hingga tubuhnya tak lagi mampu bertahan.