"Ya harapannya sama pemerintah atau pihak swasta bisa dibuatkan jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya," kata Agus.
Salah satu murid SDN Budiharja yang setiap hari naik rakit menyeberangi perairan Waduk Saguling, Imam, mengaku sudah terbiasa duduk di atas rakit bambu. Transportasi yang ia gunakan demi tiba di sekolah, tentunya berbeda dari kebanyakan bocah SD.
"Sudah biasa, kalau saya berangkatnya pagi-pagi, jam 6. Diantar rakit terus nanti pulangnya juga naik rakit lagi. Enggak takut, sudah biasa," kata Imam.