NADIKABAR.COM — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah meminta semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan dialog terkait pengibaran bendera bulan bintang di Aceh, dan tidak menggunakan kekerasan menghadapi masyarakat.
"Saya berharap seluruh pihak dapat menahan diri, mengedepankan dialog, dan tidak membiarkan persoalan itu berkembang menjadi konflik yang lebih besar," kata Fadhlullah dalam keterangannya, di Banda Aceh, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlullah sebagai respon terkait penertiban pengibaran bendera bulan bintang dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11).
Dalam insiden penertiban tersebut, disebutkan 14 warga menjadi korban, 13 orang mengalami luka-luka, dan satu orang meninggal dunia akibat tertembak di bagian dada. Serta, enam personel TNI juga mengalami luka-luka.
Fadhlullah mengimbau, seluruh pihak tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi masyarakat, dan menekankan bahwa keselamatan harus menjadi perhatian bersama.
"Yang paling utama adalah keselamatan rakyat. Kita tidak ingin ada lagi masyarakat yang terluka, apalagi kehilangan nyawa," ujarnya.
Dia kembali menegaskan penyelesaian polemik terkait bendera tersebut harus dilakukan secara bermartabat dan kepala dingin, tanpa harus mengorbankan nyawa warga sipil.
"Persoalan apapun hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. Kita harus menjaga Aceh agar tetap damai. Jangan sampai perbedaan pandangan justru mengorbankan nyawa dan merusak persaudaraan di antara sesama masyarakat Aceh," katanya.
Fadhlullah juga mengaku sangat sedih dan prihatin saat mendengar peristiwa tersebut. Maka, atas nama keluarga dan pemerintah Aceh, dia menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia.
"Kami tentu sangat berduka. Tidak ada keluarga yang ingin kehilangan orang yang dicintainya, terlebih dalam suasana yang seharusnya dipenuhi kebersamaan dan nilai-nilai keagamaan," demikian Fadhlullah.