"Yang saya apresiasi adalah kemampuan beliau untuk tetap tegas menghadapi pelanggaran hukum sekaligus menjaga ruang dialog. Persoalan ditangani dengan orientasi penyelesaian yang jelas, sehingga masyarakat memperoleh kepastian dan kegiatan ekonomi dapat berlangsung dengan aman. Saya berharap kualitas kepemimpinan yang beliau tunjukkan di Banten dapat dikembangkan dalam memimpin Polri secara nasional," lanjutnya.

Menurutnya, perjalanan karier tersebut membentuk pemahaman yang kuat terhadap pekerjaan kepolisian. Pemahaman itu, kata dia, diharapkan menjadi dasar untuk menyusun pembenahan institusi.

"Pengalaman dari tingkat polsek, polres, polda, hingga memimpin lembaga nasional memberikan pemahaman yang utuh terhadap tantangan kepolisian. Seorang pemimpin perlu memahami bagaimana kebijakan diterjemahkan oleh anggota di lapangan dan bagaimana masyarakat merasakan hasilnya. Pengalaman Pak Suyudi menjadi modal penting untuk memastikan pembenahan Polri dapat dilaksanakan secara nyata dan berkelanjutan," tuturnya.

Di bidang hukum, Jenderal Suyudi punya rekam jejak mencakup penanganan perkara mafia tanah di Jakarta dan sekitarnya. Kemudian, juga tercatat terlibat dalam tim penjemputan Maria Pauline Lumowa dari Serbia, serta memimpin penertiban penambangan emas tanpa izin di Gunung Pongkor ketika menjabat sebagai Kapolres Bogor pada 2015.

Rano berharap pengalaman tersebut bisa memperkuat konsistensi Polri dalam memberantas narkotika, mafia tanah, premanisme, kejahatan siber, serta berbagai tindak pidana yang merugikan masyarakat. Rano menekankan keberhasilan penegakan hukum harus tercermin dalam perlindungan terhadap korban, kepastian proses hukum, dan perlakuan yang setara bagi setiap warga.