NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) memperingatkan gagasan circular cultural economy (CCE) yang digagas pemerintah berisiko berhenti sebagai wacana jika tidak dibarengi perlindungan nyata bagi para penjaga warisan budaya. Ia menilai CCE tidak dapat dibangun secara instan, melainkan harus dimulai dari unit paling dasar, yakni keluarga dan komunitas desa.

"Ekonomi budaya sirkular tidak bisa dibangun secara melompat-lompat. Harus ada tahapan yang terukur, dimulai dari unit paling dasar, yaitu keluarga dan komunitas di desa," ujar Rerie dalam keterangannya, Kamis (24/9).

Rerie menegaskan bahwa di balik narasi besar tentang budaya sebagai mesin ekonomi, terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yaitu regenerasi perajin dan pelaku budaya tradisional terputus. Kearifan lokal seperti membatik, menenun, dan mengukir tidak lagi secara otomatis diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Tanpa upaya membumikan gagasan ini, kata sirkular hanya akan berputar di atas kertas, tidak pernah sampai kepada mereka yang benar-benar memegang aset budaya," ujar Rerie.

Menurut Rerie, sejumlah langkah bertahap perlu dijalankan secara terhubung. Keluarga menghidupkan kembali keterampilan dasar, desa membangun jejaring antarkomunitas, daerah membentuk klaster industri, dan seluruh proses bermuara pada sistem ekonomi kreatif nasional yang berpihak kepada pelaku di akar rumput.