NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) mengungkapkan ketimpangan gender tidak akan dapat diatasi tanpa kebijakan yang mengakui beban kerja domestik dan pengasuhan. Adapun beban domestik dan pengasuhan selama ini lebih banyak ditanggung perempuan.
"Selama pekerjaan domestik dan pengasuhan dianggap semata-mata sebagai urusan pribadi perempuan, ketidakadilan struktural akan terus berulang. Kerja perawatan menopang keluarga, dunia kerja, dan perekonomian sehingga harus diperhitungkan dalam proses penyusunan kebijakan," kata Rerie dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Adapun riset Populix bertajuk Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi mengungkapkan bahwa perempuan di rumah tangga urban mengalokasikan 252 jam lebih banyak untuk pekerjaan domestik dalam setahun dibandingkan laki-laki.
Selisih waktu tersebut setara dengan sekitar 31 hari kerja, dengan asumsi delapan jam kerja per hari.
Riset melalui survei daring terhadap 1.000 rumah tangga urban pada Maret-April 2026 itu juga mencatat bahwa perempuan menghabiskan rata-rata 3 jam 14 menit per hari untuk pekerjaan domestik, sekitar 27% lebih lama dibandingkan laki-laki.
Selain beban waktu, perempuan juga menghadapi beban mental dan pengambilan keputusan yang lebih tinggi. Skor beban keputusan dan mental perempuan mencapai 59,7 dari 100, sedangkan laki-laki 48,5.
Sebanyak 71,7% perempuan juga tercatat mengelola sedikitnya 60% keputusan harian rumah tangga, mulai dari mengatur kebutuhan anak dan belanja hingga memastikan berbagai kewajiban rumah tangga terpenuhi.