PLTA yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini memiliki kapasitas terpasang total 510 megawatt (MW). PLTA tersebut dirancang untuk beroperasi penuh pada jam beban puncak (18.00–24.00).

PLTA Batang Toru dibidik untuk menjadi pilar stabilitas dan fleksibilitas subsistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Selain itu, pemerintah juga membidik agar kehadiran PLTA Batang Toru dapat menggantikan pembangkit fosil dan/atau menghentikan pembangkit sewa berbiaya tinggi, seperti PLTD dan PLTMB BBM saat beban puncak.

Sejatinya, proyek tersebut dibidik untuk beroperasi pada akhir 2025, akan tetapi tertunda akibat terdampak oleh banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera pada November 2025.