NADIKABAR.COM — Baca beritanya dalam bahasa Inggris
Lorong-lorong rumah sakit yang dipenuhi pasien yang kesakitan dan waktu tunggu yang lama di unit gawat darurat (UGD) kini kian lazim ditemukan di sejumlah rumah sakit di Australia, seiring dengan menuanya populasi, demikian peringatan dari otoritas tertinggi dokter gawat darurat di Australia.
Australasian College for Emergency Medicine (ACEM) merilis laporan State of Emergency tahunan, yang berfokus pada dampak penuaan populasi yang menyebabkan krisis sistem kesehatan.
Secara nasional, hanya 54 persen warga lanjut usia yang bisa mendapat tempat tidur untuk rawat inap dalam waktu delapan jam ketika datang ke UGD pada 2023-24.
Jumlahnya turun dari 75 persen pada 2018-19, menurut data yang dihimpun ACEM.
Angka tersebut juga menunjukkan tren mengkhawatirkan yang menurut ACEM masih terus berlanjut.
Elsie Gribben, seorang nenek asal Perth, menunggu hampir 48 jam di lorong St John of God Midland Hospital pada bulan Maret lalu, seperti yang diceritakan putrinya, Susan Chapman, kepada ABC.
"Ibu saya tidak bisa berjalan, dan pada waktu-waktu tertentu dibiarkan tanpa pengawasan di lorong. Ia hanya diberi tisu basah untuk membersihkan dirinya sendiri dan tidak bisa mengakses toilet," kata Susan.
"Itu sesuatu yang kita pikir cuma terjadi ketika ada perang dunia," ujarnya.
Susan mengatakan ia sudah mengunjungi beberapa rumah sakit sejak itu, dan situasinya tidak membaik.
"Bukan hanya satu rumah sakit, tapi di semuanya. Para perawat yang saya ajak bicara hampir semuanya sudah muak dengan cara mereka diperlakukan," ujarnya.