"Pariwisata masa depan bukan hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi, juga bagaimana menghadirkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Karena itu, lulusan Politeknik Pariwisata diharapkan tidak hanya terampil, tetapi, juga tangguh, adaptif, berintegritas, dan mampu berkomunikasi lintas budaya," tutur Wamenpar.
Dia juga menitipkan pesan utama kepada para lulusan sebagai bekal memasuki dunia profesional, seperti menjadi pelopor pariwisata berkelanjutan dengan memastikan setiap aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya.
Kemudian, terus belajar dan adaptif menghadapi perubahan industri yang berlangsung cepat. Kemampuan untuk menerima masukan, memperbarui pengetahuan, serta memahami perkembangan teknologi dan kebutuhan wisatawan menjadi modal penting untuk bertahan dan berkembang dalam industri pariwisata.
Pesan itu juga dikaitkan dengan nilai luhur masyarakat Sulawesi Selatan, yakni sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi yang mengandung semangat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, saling memanusiakan, dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut mencerminkan karakter keramahtamahan yang menjadi salah satu kekuatan pariwisata Indonesia.
Para lulusan diminta tetap membumi dan berpegang pada akar budaya dengan membawa identitas serta kearifan lokal sebagai kekuatan ketika berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Wamenpar berpesan bahwa menjadi insan global bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan membawa nilai-nilai terbaik dari budaya kita untuk memberi manfaat bagi dunia.