"Tapi di daerah saya, saya dari Ternate, Maluku Utara, Halmahera, warga saya tanya di sana mereka sangat minta agar MBG itu tidak, ya, dihentikan, ya. Ini kondisi nyata bangsa kita," sambungnya.
Saleh kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Ternate. Dia mengaku kondisi ekonomi keluarganya saat itu cukup sulit hingga harus menghemat makanan.
"Saya di Ternate waktu saya SD, saya keluarga ada 7 orang. Ibu saya memasak dan saya anak kedua. Kalau makan pagi sebelum berangkat ke sekolah itu saya ada telur satu dipotong tujuh. Telur satu dipotong tujuh, saking susahnya zaman itu," tutur Saleh.
Tak hanya itu, dia juga mengenang kebiasaan keluarganya menyantap nasi tanpa ikan. Sebagai gantinya, nasi dicampur mentega agar terasa lebih nikmat.
"Kadang-kadang nasi kita nggak pakai ikan, kita campur mentega biar enak gitu zaman itu. Mungkin para pemuda sudah tidak merasakan, ya," sambungnya.
Saleh mengakui pelaksanaan program MBG sempat menghadapi sejumlah persoalan, terutama terkait tata kelola. Meski begitu, dia menilai program tersebut tetap penting untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat.