Kondisi panas tersebut membuat masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan lebih berisiko mengalami dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung seperti tabir surya untuk mengurangi paparan langsung sinar Matahari, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Di sisi lain, kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat terdapat 463 titik panas di Kalimantan dan 264 titik panas di Sumatera.
Asap akibat karhutla dapat memperburuk kualitas udara dan berpotensi mengganggu kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Hujan Lokal Tetap Berpotensi Terjadi
BMKG menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih relatif kering pada September, dengan curah hujan sekitar 0-150 mm per dasarian.