"Kenapa ini tidak? Kok tiba-tiba mengkritik secara terbuka? Ayo tangani bersama? Kalau ingin dikenakan sanksi secara fair dan optimal, kita duduk bareng, diselesaikan," tambah Jonan.

Jonan menyebut banyak perusahaan yang terlibat karhutla, kemungkinan memiliki kaitan dengan Singapura atau Malaysia.

"Karena banyak juga perusahaan itu juga, yang listing kemungkinan listing di Singapura atau di Malaysia, atau sebagian dimiliki oleh perusahaan yang didirikan di Singapura atau Malaysia, baik melalui langsung atau melalui family office atau melalui bermacam-macam," ungkapnya.

Hal inilah yang menjadikan Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus duduk bersama supaya dapat dikenakan sanksi bagi perusahaan yang terduga terlibat karhutla.

Terakhir, ia menutup pesan bahwa bencana ekologi tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, yang terpenting adalah kerja sama, tidak perlu mengkritik atau menghina satu sama lain.