NADIKABAR.COM — Warga Islandia menolak rencana pembukaan kembali perundingan agar negaranya bergabung dengan Uni Eropa.
Hasil akhir referendum yang diumumkan pada Minggu (30/08) menunjukkan kubu warga yang memilih "Tidak" meraih 52,8% suara, sementara kubu warga yang memilih "Ya" mendapat 47,2%, menurut penghitungan resmi yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik RUV.
Ibu kota Reykjavik menjadi satu-satunya wilayah di negara berpenduduk sekitar 400.000 jiwa itu, yang mendukung referendum.
Dari sekitar 270.000 warga yang berhak memilih, sebanyak 82% menggunakan hak suaranya.
Perdana Menteri Islandia Kristrun Frostadottir, yang mendukung kubu "Ya", mengatakan hasil tersebut bukan kekalahan, melainkan wujud demokrasi.
"Saya tidak melihat ini sebagai kemunduran. Saya melihatnya sebagai kemenangan bagi demokrasi," katanya. Ia menambahkan, lebih dari 80% warga ikut menentukan keputusan tersebut. Meski begitu, Islandia akan terus memperkuat hubungannya dengan Kawasan Ekonomi Eropa.
"Saya tidak melihat adanya kekecewaan yang mendalam," katanya. "Memang ada sebagian orang yang tidak menerima hasil referendum, tetapi setelah berbicara dengan banyak pihak dari berbagai daerah, saya melihat mereka cukup terbuka menerima apa pun hasilnya," pungkasnya.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antnio Costa mengatakan Uni Eropa menghormati keputusan demokratis warga Islandia untuk tidak melanjutkan kembali perundingan, "Islandia tetap menjadi salah satu mitra terdekat dan paling dipercaya Uni Eropa," ujar seorang juru bicara.
Pemungutan suara pada Sabtu (29/08) digelar di tengah berulangnya ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland yang berada di dekat Islandia.