NADIKABAR.COM — Berbagai masalah pernapasan, mulai dari tenggorokan gatal, batuk berdahak, hingga sesak napas bermunculan imbas meluasnya sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Kebanyakan orang menganggap masalah ini bakal hilang begitu abu mereda, padahal ancaman kesehatan jangka panjang bisa jadi tengah bekerja secara senyap.

Jika abu vulkanik terus-menerus terhirup tanpa pelindung, jaringan paru-paru manusia yang tadinya lentur dan fleksibel bisa berubah menjadi keras dan kaku. Kondisi medis ini dikenal sebagai silikosis dan fibrosis paru.

Paru-paru kaku terjadi akibat kandungan dari abu vulkanik itu sendiri. Abu vulkanik kaya akan partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikron yang didominasi oleh mineral silika.

Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini lolos dari saringan hidung dan meluncur bebas hingga ke dalam rongga paru-paru terdalam.

Praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan, ketika partikel silika ini tertanam lama di dalam paru-paru, tubuh meresponsnya dengan membentuk jaringan parut berlebih (fibrosis).