Meski sebagian besar kemampuannya dikembangkan secara otodidak, Winola menyebut pamannya menjadi sosok penting yang mengajarkan teknik dasar menggambar padanya. Pelajaran singkat selama 30 menit tentang shading mata menggunakan pensil menjadi fondasi kuat baginya hingga saat ini.
Kini, Winola Sebastian aktif membagikan proses berkaryanya di media sosial. Berbagai medium pernah ia coba, mulai dari cat air, akrilik, gouache, cat minyak di atas kanvas, kertas, hingga media tak biasa seperti kulkas, motor, dan dinding.
Membuat konten lukis diakui Winola memiliki suka dukanya tersendiri. Meskipun ide dan inspirasi mengalir tanpa henti, proses produksi yang ia kerjakan sendirian cukup memakan waktu.
"Karena semua produksi dibuat oleh saya sendiri tanpa bantuan orang lain: mulai dari pembuatan lukisannya, merekam prosesnya, set up kamera, membuat naskah dan mengedit video. Jadi memang, eksekusinya cukup memakan waktu," katanya.
Meskipun begitu, ia merasa puas karena media sosial menjadi wadah baginya untuk menyalurkan kreativitas, membagikan tutorial, mengulas sejarah lukisan terkenal, hingga menginformasikan pameran seni di Indonesia.