Okonjo-Iweala mengatakan sebagian besar momentum tersebut didorong oleh lonjakan perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI), yang turut didorong oleh perjanjian tarif rendah atau nol yang mencakup pengiriman semikonduktor dan cip senilai 3 triliun dolar AS secara global.

Ia mengingatkan agar tren tersebut tidak dianggap akan terus berlanjut, serta memperingatkan bahwa manfaat ekonomi dari lonjakan perdagangan itu masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Timur. Kondisi tersebut disebutnya memunculkan kekhawatiran mengenai inklusivitas pasar global.

Okonjo-Iweala mengatakan cadangan nasional untuk sementara melindungi pasar dari guncangan akibat gangguan di Selat Hormuz sejauh ini.

Namun, blokade berkepanjangan di jalur perairan vital tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan biaya pertanian.

Perkiraan WTO sebelumnya menunjukkan bahwa harga minyak mentah yang mencapai 90 dolar AS per barel dapat menurunkan pertumbuhan perdagangan secara keseluruhan sebesar 0,5 poin persentase.