NADIKABAR.COM — Bagian pertama: Xi Jinping arahkan hubungan China-AS menuju stabilitas (1)
PenyeimbangHubungan ekonomi dan perdagangan harus terus dijadikan "penyeimbang" dan kekuatan pendorong bagi hubungan China-AS, alih-alih menjadi batu sandungan atau titik gesekan, tutur Xi kepada Trump di Busan, Korea Selatan, pada 2025.
Xi kerap mengibaratkan hubungan China-AS sebagai sebuah kapal raksasa, di mana penyeimbang sangat penting untuk menjaga kapal tetap berada di jalurnya saat mengarungi perairan yang bergejolak.
Dalam kunjungan pada Mei tersebut, Xi bertemu dengan Trump di Balai Agung Rakyat di Beijing, didampingi oleh lebih dari 12 eksekutif dari perusahaan-perusahaan terkemuka AS, termasuk Apple, Nvidia, Tesla, dan Boeing.Menyusul lonjakan tarif AS pada 2025, Beijing merespons dengan langkah-langkah balasan yang tegas seraya tetap melanjutkan negosiasi dengan Washington dalam upaya untuk mengatasi perbedaan di antara kedua belah pihak. Pada saat Xi dan Trump bertemu di Beijing, tim ekonomi dan perdagangan kedua pihak telah mencapai "hasil yang secara umum seimbang dan positif."Dialog tersebut terus berlanjut sejak saat itu, dengan putaran perundingan terbaru mereka yang berlangsung secara terbuka, mendalam, dan konstruktif, berakhir di New York pada Minggu (20/9).Xi berulang kali menekankan, baik dalam komunikasinya dengan Trump maupun di panggung internasional, bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang. "Fakta akan membuktikan bahwa pemisahan dan pemutusan rantai pasokan tidak akan menghambat proses pembangunan kami, sementara menerapkan 'halaman kecil, pagar tinggi' hanya akan mengungkung diri sendiri dan memecah belah dunia," tutur Xi dalam KTT BRICS yang baru saja berakhir di New Delhi.Pesan tersebut juga menjadi inti dari upaya Xi menjalin komunikasi dengan kalangan bisnis AS. Pada Maret 2024, Xi bertemu dengan perwakilan dari komunitas bisnis, strategis, dan akademisi AS di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Xi mengatakan bahwa keberhasilan masing-masing pihak, China dan AS, merupakan peluang bagi satu sama lain.Trump memperkenalkan para pemimpin bisnis tersebut kepada Xi satu per satu, yang menegaskan betapa pentingnya delegasi tersebut bagi dirinya."Kedua pihak, AS dan China, memiliki kepentingan besar dalam stabilitas strategis yang konstruktif," kata Robert Lawrence Kuhn, seorang akademisi AS yang juga telah lama menjadi pengamat China.Mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan mitigasi perubahan iklim hingga kesehatan masyarakat dan pemberantasan narkoba, ada banyak isu yang melibatkan China dan AS, imbuhnya.