Permainannya memberikan warna berbeda, di tengah era sepakbola yang kian menghindari risiko dari 'hilangnya' bola. Yamal tak takut 'menari' dengan bola, mencoba melewati satu, dua, atau tiga pemain lawan.

Perkara senang-senang itu ia belajar dari sepakbola di jalanan Rocafonda, sementara di soal taktik dan pemahaman permainannya ia dapatkan dari akademi La Masia. Dari kacamatanya sebagai pemain, saat ini aspek senang-senang menjadi hal yang kurang di sepakbola.

"Masalahnya adalah, saya menyukai sepakbola. Saya tak bermain demi uang, saya bermain sepakbola karena saya mencintainya. Para pemain yang terobsesi dengan gol-gol atau asis-asis tak akan menikmati," kata Yamal dalam wawancara dengan The Guardian sebelum pertandingan lawan Inggris.