"Namun untuk 2026 ini, 98 zona musimnya itu mengalami musim kemarau karena dampak anomali hujan lebih rendah akibat El Nino, sementara 12 zona musim yang lain tetap sama seperti klimatologinya," pungkas Ardhasena.
BMKG mengungkap penyebab mundurnya musim hujan. Hal ini disebabkan fenomena El Nino.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD (Indian Ocean Dipole) yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Faisal.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebut durasi musim hujan kali ini relatif lebih pendek. Meski begitu, akumulasi curah hujan diprediksi berada di atas normal, sehingga potensi hujan lebat dengan intensitas tinggi sangat terbuka terjadi.
"Periode musim hujan ini pendek, tetapi curah hujan umumnya lebih besar dari normal. Nah, ini yang perlu diwaspadai," kata Andri.
"Jadi bisa saja hujan nanti jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut, dan untuk wilayah-wilayah yang secara historikal itu terjadi bencana hidrometeorologi basah itu perlu diwaspadai," lanjutnya.
Andri menyebut wilayah yang secara historis pernah mengalami bencana hidrometeorologi basah perlu meningkatkan kewaspadaan. Dia mengungkap wilayah basah itu.
"Umumnya adalah di wilayah Jawa, saya kira Jawa ini merata, terutama mungkin di Jawa Barat yang tertinggi, kemudian juga disusul di Jawa Tengah dan juga Jawa Timur. Lalu juga untuk wilayah Sumatera, juga ini juga perlu diperhatikan di Padang, Sumatera, kemudian juga di Sumatera Utara, dan juga Aceh," sambungnya.