Jakarta - Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi subspesialis kaki dan pergelangan kaki Ihsan Oesman menyampaikan bahwa orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoartritis lutut.
Menurut dr. Ihsan Oesman, Sp.OT(K), orang dengan indeks massa tubuh 25 hingga 29,9 atau tergolong memiliki berat badan berlebih risikonya mengalami osteoartritis lutut 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Risiko individu dengan indeks massa tubuh 30 ke atas atau individu dengan obesitas mengalami osteoartritis lutut sekitar 4,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal, kata dr. Ihsan dalam acara diskusi mengenai kaitan obesitas dan osteoartritis lutut di Jakarta, Jumat.
Ia menyampaikan bahwa berat badan berlebih menimbulkan tekanan mekanis lebih besar pada sendi lutut, yang menopang sebagian besar beban tubuh ketika orang berdiri, berjalan, dan melakukan aktivitas sehari-hari.
"Ketika beban tubuh lebih besar, tentu beban pada lutut juga akan bertambah," katanya.
Selain itu, ia menjelaskan, jaringan lemak berlebih dapat memicu perubahan pada tingkat sel yang berkaitan dengan proses peradangan kronis, yang berpotensi mempercepat kerusakan jaringan sendi.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi tulang rawan dan struktur lain pada sendi lutut yang berperan dalam pergerakan.
Seiring waktu, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi lutut yang membatasi kemampuan melakukan aktivitas seperti berdiri lama, berjalan, dan berolahraga.
Dokter Ihsan menjelaskan, penilaian risiko osteoartritis lutut dapat dilakukan berdasarkan indeks massa tubuh, yang dihitung menggunakan perbandingan berat dan tinggi badan, ukuran lingkar perut, riwayat cedera, serta bentuk atau keselarasan lutut.
Assoc. Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha menambahkan, berat badan bukan satu-satunya variabel yang memengaruhi keluhan pada lutut.
"Pengelolaan berat badan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya pendekatan dalam mencegah maupun menangani osteoartritis lutut," katanya.
Menurut dia, faktor-faktor lain yang berpeluang menyebabkan nyeri lutut juga perlu dievaluasi untuk menentukan penanganan dan pengobatan yang tepat.
Osteoartritis lutut adalah kondisi degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan di ujung tulang persendian mulai menipis dan aus.
Kondisi ini seiring waktu dapat menyebabkan tulang saling bergesekan, mengakibatkan nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan gerak.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan guna mengurangi risiko atau mencegah perkembangan lebih lanjut osteoartritis.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dan mencegah perkembangan lebih lanjut osteoartritis antara lain mengontrol berat badan serta rutin melakukan olahraga ringan guna menjaga kekuatan otot serta fleksibilitas dan kesehatan sendi.
Mereka yang rutin berolahraga disarankan melakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan setelah aktivitas fisik agar sendi tidak terlalu terbebani serta menggunakan pelindung dan menghindari gerakan berlebihan atau repetitif untuk mencegah cedera yang dapat meningkatkan risiko osteoartritis.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.