Sebaliknya, satu faktor yang memiliki pola paling sesuai dengan peningkatan kasus kanker adalah kelebihan berat badan dan obesitas.
Jumlah orang yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas telah meningkat sejak dekade 1990-an.
Jaringan lemak berlebih diketahui dapat memengaruhi hormon di dalam tubuh, termasuk insulin. Perubahan tersebut diduga dapat memengaruhi risiko seseorang terkena kanker.
Namun, para ilmuwan menegaskan berat badan berlebih bukan satu-satunya jawaban.
Dalam kasus kanker usus, misalnya, peneliti memperkirakan dari setiap 100 kasus tambahan, sekitar 20 kasus mungkin berkaitan dengan kelebihan berat badan. Artinya, sekitar 80 kasus lainnya masih belum dapat dijelaskan.
"Masih banyak yang belum kita ketahui," kata Prof Marc Gunter dari Imperial College London.
Para ilmuwan masih menyelidiki sejumlah kemungkinan faktor lain, termasuk konsumsi ultra processed food (UPF), paparan PFAS atau bahan kimia yang dikenal sebagai forever chemicals, penggunaan antibiotik, minuman berpemanis, peradangan, polusi udara, bakteri usus hingga paparan herbisida.
Kemungkinan bahwa peningkatan kemampuan mendeteksi kanker juga membuat lebih banyak kasus ditemukan pada usia muda turut menjadi bahan penelitian.
Salah satu kisah yang menggambarkan kondisi ini adalah Bradley Coombes, pria asal Portsmouth, Inggris.