Bradley meninggal akibat kanker usus ketika usianya baru 23 tahun. Menurut ibu Bradley, Caroline Mousdale, anaknya merupakan pria muda yang sehat dan bugar. Ia bahkan tengah bersiap menandatangani kontrak sepak bola semi-profesional.
Namun, setelah tahun pertamanya di universitas, kondisi Bradley mulai berubah. Berat badannya turun drastis dan ia mengalami nyeri perut.
Gejala kemudian berkembang menjadi diare dan darah pada tinja.
Caroline mengatakan putranya mengalami berbagai gejala yang seharusnya menjadi tanda bahaya kanker usus. Namun, usianya yang masih muda membuat gejala tersebut sempat dianggap tidak mengarah pada kanker.
Bradley membutuhkan waktu sekitar 18 bulan sejak gejala muncul hingga akhirnya mendapatkan diagnosis.
Ketika menjalani kolonoskopi, ukuran tumornya sudah sangat besar hingga menghalangi alat untuk melewati bagian usus yang terkena kanker.
Bradley kemudian menjalani operasi dan kemoterapi. Namun, pengobatan tersebut tidak mampu menghentikan perkembangan tumornya.
Ia akhirnya meninggal dunia dengan anjing kesayangannya, Buster, berada di sisinya.
"Saya benar-benar merasa, seperti setiap orang tua, bahwa dia akan mewujudkan impian sepak bolanya dan menjalani kehidupan yang luar biasa. Semua itu direnggut karena kanker usus yang muncul di usia muda tidak teridentifikasi sejak awal," ujar Caroline.