"Kita punya tiga lokasi binaan pasar dan 42 lokasi sementara (loksem). Tapi, loksem ini harus khusus untuk makanan, minuman, kuliner," tutur Djaharuddin.

Dia pun menilai relokasi merupakan tantangan tersendiri karena sebagian besar pedagang telah memiliki konsumen di sekitar Setu Babakan sehingga dikhawatirkan terjadi penurunan omzet setelah berpindah lokasi.

"Memang, mereka itu konsumennya rata-rata ada di sekitar situ. Jadinya, mereka agak berat meninggalkan titik awal dagang itu," ungkap Djaharuddin.

Sebelumnya, pada Senin (5/10), puluhan pedagang di bantaran timur Setu Babakan membongkar kios secara mandiri setelah menerima Surat Peringatan (SP) 1 dan SP2 dengan pendekatan persuasif oleh petugas terkait.