Untuk memastikan bantuan digunakan secara produktif, Baznas melibatkan penyuluh agama di kecamatan masing-masing sebagai pendamping. Kedekatan mereka dengan penerima manfaat diharapkan memudahkan pemantauan sekaligus membantu penerima mengembangkan usahanya.
Setiap empat bulan, para pendamping diminta menyampaikan laporan perkembangan usaha yang mereka dampingi. Dari laporan tersebut, Baznas dapat melihat perubahan yang terjadi, mulai dari penambahan fasilitas usaha hingga peningkatan jumlah pekerja.
Darodji mencontohkan ada penerima yang sebelumnya memiliki dua bangku usaha, kemudian berkembang menjadi empat. Ada pula pelaku usaha yang mampu menambah jumlah pekerja dari tiga menjadi lima orang.
Berdasarkan hasil kunjungan langsung, Baznas juga menemukan penerima bantuan yang mampu memperoleh keuntungan hingga Rp300 ribu per hari.
"Kalau kita ingin membuat orang mandiri dan bebas dari kemiskinan, bagi kami ada dua cara, yaitu dilatih punya keterampilan dan diberi modal. Kalau bantuan konsumtif, mungkin beberapa hari sudah habis. Tetapi, kalau produktif, kita beri kail agar mereka berkembang," jelas Darodji.
Manfaat bantuan tersebut dirasakan pelaku usaha sol sepatu asal Kabupaten Batang, Slamet Rahardjo, yang telah menjalankan usahanya selama sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kecelakaan, Slamet kini harus menggunakan kursi roda untuk menjalani aktivitas sehari-hari.