"Di luar kelompok populasi yang telah ditentukan, kategori populasi lainnya justru mencatatkan jumlah temuan positif HIV paling tinggi," tegasnya.

Ia menerangkan, dari kelompok tersebut ditemukan sebanyak 73 kasus positif HIV. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa HIV tidak hanya menjadi persoalan pada kelompok populasi tertentu. Pemeriksaan dan edukasi mengenai HIV perlu terus diperluas agar masyarakat yang memiliki risiko maupun yang tidak mengetahui status HIV nya dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan secara tepat.

"Dengan capaian pemeriksaan baru 53 persen hingga Juli 2026, masih terdapat sekitar 47 persen target yang perlu dikejar," katanya.

Ia menjelaskan, meningkatan cakupan skrining dinilai penting untuk menemukan kasus HIV sedini mungkin. Dengan mengetahui status HIV lebih awal, seseorang yang terkonfirmasi positif dapat segera memperoleh penanganan dan terapi Antiretroviral (ARV) sesuai layanan kesehatan.

"Deteksi dini juga menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kondisi infeksi berkembang ke tahap yang lebih berat," tuturnya.

Karena itu, upaya penjangkauan masyarakat, edukasi, serta peningkatan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan HIV perlu terus diperkuat.

Ia berharap, semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan. Hal ini menjadi penting mengingat masih ditemukannya puluhan kasus yang telah memasuki fase AIDS dari hasil pemeriksaan hingga Juli 2026.