Metzger memberikan contoh lain. Asteroid yang ukurannya terlalu kecil untuk berbentuk bulat secara gravitasi pun dapat memiliki kemampuan membersihkan orbit apabila berada cukup dekat dengan sebuah bintang.

Menurutnya, contoh tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membersihkan orbit bukanlah kategori yang cukup bermakna untuk menentukan status sebuah planet.

Pendukung pengembalian status Pluto umumnya tidak mempermasalahkan kemungkinan bertambahnya jumlah planet secara signifikan. Mereka justru menerima definisi yang lebih luas, meski konsekuensinya jumlah planet di Tata Surya bisa mencapai ratusan.

Paul Byrne, profesor madya ilmu bumi, lingkungan, dan planet di Washington University, bahkan menganggap banyaknya planet bukan masalah."Semakin banyak, semakin baik," kata Byrne. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan jumlah spesies PokΓ©mon yang mencapai lebih dari 1.000.

Perdebatan kembali menguat setelah wahana antariksa New Horizons yang dipimpin Stern melakukan penerbangan lintas Pluto pada 2015.

Kelompok geofisika melihat data dari misi tersebut sebagai penguat argumen mereka. Pluto ternyata memiliki gunung, bukti aktivitas geologi yang relatif baru, serta bukit es air yang mengapung di atas nitrogen beku.

Dengan karakteristik tersebut, mereka berpendapat Pluto memiliki sifat-sifat geofisika yang layak dimiliki sebuah planet. Bahkan, Pluto dinilai mungkin memiliki kondisi yang dapat mendukung kehidupan.

Pihak yang menolak pengembalian Pluto dalam daftar planet mengungkapkan tidak semata-mata keberatan karena jumlah planet akan bertambah. Persoalan yang lebih besar adalah definisi berbasis karakteristik fisik yang berpotensi memasukkan satelit alami sebagai planet, termasuk Bulan.

Astronom California Institute of Technology (Caltech), Mike Brown mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan jika jumlah planet menjadi lebih banyak. Menurutnya, persoalannya adalah manusia telah lama menganggap Bulan bukan planet.

Brown merupakan astronom yang memimpin tim penemu Eris pada 2005. Penemuan tersebut menjadi salah satu pemicu utama proses yang berujung pada perubahan status Pluto. Karena itu, ia kerap dijuluki "The Man Who Killed Pluto" dan bahkan menulis buku How I Killed Pluto and Why It Had It Coming.

Menurut Brown, Bulan lebih besar daripada Pluto, berbentuk bulat, dan memiliki sejarah geofisika yang kompleks. Jika syarat mengenai orbit dihilangkan, Bulan juga akan memenuhi kriteria planet.