Secara global, katanya, sebanyak 510 juta orang memiliki refraksi dekat tak terkoreksi. Kemudian, sebanyak 161 juta orang memiliki refraksi jauh tak terkoreksi. Selain itu, 100 juta orang memiliki katarak yang belum dioperasi.
Pihaknya juga menyoroti penyebab-penyebab lain seperti degenerasi makula (8,1 juta), glaukoma (7,8 juta), dan retinopati diabetik (4,4 juta).
Senada, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan, pelayanan kesehatan mata tak berakhir di skrining, namun harus terintegrasi agar bida ditindaklanjuti sesuai kompetensi.
"Investasi pada kesehatan mata sesungguhnya adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia Indonesia," katanya.
Oleh karena itu, kata Andi, jangan menunggu mata bermasalah, kenali tanda gangguan penglihatan, lakukan skrining dan pemeriksaan secara berkala, dan segera tindak lanjuti apabila ditemukan gangguan.