Dari Muadz bin Jabal RA, dari Rasulullah SAW bersabda, "Perang itu ada dua macam; Adapun orang yang berperang mencari Wajah (ridha) Allah, mentaati imam, membelanjakan harta yang mulia, memudahkan rekannya, dan menghindari kerusakan, maka tidurnya dan perampasannya adalah pahala seluruhnya. Adapun orang yang berperang dengan kecongkakan, riya (sombong agar dilihat) dan sumah (sombong agar harum namanya, pencitraan), membangkang kepada imam, dan melakukan kerusakan di muka bumi, maka sesungguhnya dia tidak kembali dengan kefakiran." (HR An-Nasa'i dalam Kitab Al-Jihad)

Umat Islam hendaknya berhati-hati dengan riya. Dalam sebuah hadits yang dinukil Muhammad Nauval Al-Ammari dalam buku Memahami Ilmu Tauhid dan Amalan Ahli Surga, riya dikatakan sebagai syirik ashgar.

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgar." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik ashgar, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "(Syirik ashgar adalah) riya. Allah Ta'ala berkata pada mereka yang berbuat riya pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: 'Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka'?" (HR Ahmad. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan sanadnya shahih)

Riya lebih berbahaya dari fitnah Dajjal, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masiih ad-Dajjal?... Yaitu syirkul khafi, yaitu seseorang salat, lalu menghiasi (memperindah) salatnya, karena ada orang yang memperhatikan salatnya." (HR Ibnu Majah)