Selain dugaan penggelapan saldo TikTok, Joseph mengatakan pihaknya menemukan dugaan kerugian lain dalam bisnis Vilmei. Salah satunya terkait penjualan produk parfum. Produk yang seharusnya dijual sekitar Rp 250 ribu disebut pernah dijual dengan harga hanya Rp 6 ribu.

"Tadi itu belum kita rekap, belum lagi nanti kerugiannya dari parfum," beber Joseph.

Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan untuk mengejar target jumlah penjualan. Namun, cara tersebut justru berpotensi merugikan bisnis dan berdampak terhadap toko.

"Kalau misalkan bikin bisnis jangan dihitung dari quantity saja, dihitung dari jumlah keuntungannya, dihitung dari jumlah transfernya harus dilihat benar-benar. Kalau nggak nanti toko kalian itu rusak ratingnya di TikTok dan sebagainya," katanya.

Joseph mengatakan Vilmei bahkan sempat mengirimkan produk yang dijual Rp 6 ribu tersebut demi menjaga rating toko di TikTok.

"Dan Vilmei, sampai pernah kirim itu yang harganya segitu, hanya untuk membuat rating di TikTok-nya itu selamat gitu. Entar sama foto juga ya, video semua," sambungnya.

Joseph mengungkapkan dugaan aksi tersebut dilakukan oleh orang yang telah lama dipercaya bekerja bersama Vilmei.

Pelaku utama berinisial Z disebut telah bekerja selama sekitar tiga tahun. Sementara A disebut merupakan pacar Z. Adapun L merupakan karyawan yang diduga berperan membuat akun untuk menampung hasil dugaan kejahatan.

"Bukan dari awal, tapi dari keterangannya itu ada sekitar tiga tahunlah untuk pelaku utama ya. Yang berinisial Z ya. A ini kan adalah pacarnya. Lalu satu lagi berinisial L, ini juga karyawannya, saya juga kurang tahu di bagian apa tapi dia itu adalah orang yang bikin akun. Untuk penadah dari uang, dari hasil kejahatan tersebut," ungkap Joseph.

Saat ini, pihak manajemen Vilmei masih melakukan audit internal untuk mengetahui secara keseluruhan nilai kerugian yang ditimbulkan dari dugaan penggelapan tersebut.