Dalam kesempatan itu, Sari turut menegaskan bahwa dirinya bukan mahasiswa aktif UBSI. Ia juga menyebut almamater yang digunakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak ia kenal.

"Dengan ini, saya menegaskan bahwa saya bukan mahasiswa aktif UBSI. Almamater yang saya gunakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak saya kenal dan bukan merupakan identitas resmi saya sebagai mahasiswa UBSI," tutur dia.

"Saya menyadari bahwa penggunaan almamater tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman dan berdampak pada nama baik institusi. Atas hal tersebut, saya memohon maaf sebesar-besarnya dan bertanggung jawab atas tindakan saya," sambungnya.

Atas dasar itu, Sari menyatakan tindakan dan pernyataan yang bersangkutan tidak mewakili sikap resmi maupun kepentingan institusi UBSI.

"Kami berharap masyarakat dapat menyikapi persoalan ini secara objektif dan tidak mengaitkan tindakan individu tersebut dengan seluruh mahasiswa maupun civitas akademik UBSI. Demikian klarifikasi saya ini saya sampaikan, terima kasih," ucap dia.

Tak hanya Sari, Bayu Setiadi alias Dino juga menyampaikan permintaan maaf karena mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) saat aksi. Ia mengaku dirinya bukan merupakan mahasiswa dari Universitas Dian Nusantara dan mengikuti aksi tersebut karena adanya bayaran.

"Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2006, berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar," ucap Dino pada akun Instagram @bem_undira pada Jumat (30/10).