Nama Kayonan sendiri merupakan sebuah gunungan dalam wayang Jawa. Dalam sebuah gunungan wayang, simbol semesta, seperti alam dan hutan, menunjukkan makna sebagai sumber kehidupan.

Selain itu, secara kata 'Kayon' juga bermakna 'kayu' yang diartikan sebagai pikiran dan niat. Dari filosofi itulah Alit menamai sanggar kesenian yang dirintisnya.

"Dari situlah filosofi itu yang menguatkan saya memberikan nama kepada sanggar ini Sanggar Kayonan. Karena saya tidak pernah pantang menyerah untuk berjuang memajukan kesenian di tengah surutnya keadaan sosial ekonomi," tutur Alit.

Alit sempat menghadapi tantangan besar pada era 1990-an ketika memadukan unsur teater modern ke dalam ranah upacara adat di Klungkung. Atas permintaan para sesepuh desa untuk mendukung jalannya upacara dan pementasan, sanggar ini terus beradaptasi dengan meramu teater modern dan tradisi Bali.

Konsistensi Sanggar Kayoan dalam melahirkan karya terus terjaga meski mengalami keterbatasan finansial dan tanpa campur tangan pemerintah. Konsistensi berkarya menjadi fondasi awal sanggar Kayonan menjadi seperti sekarang.

Konsistensi itu membuatnya meraih penghargaan khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung. Bahkan, sejak 2015, Alit dipercaya meramu tema kegiatan dan pertunjukan di Semarapura Festival.