Tak cuma itu, jelajah panggung Sanggar Kayonan merentang dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Solo, Bandung, Yogyakarta hingga menembus batas negara sampai ke Korea. Ragam kesenian yang ditekuni mencakup seni tari tradisional Bali dan Jawa, tari garapan kontemporer, teater hingga tabuh gamelan.

"Orientasi utamanya dalam berkarya adalah ketulusan murni untuk merawat dan melestarikan seni itu sendiri, sementara materi atau bayaran diletakkan sekadar sebagai bonus yang mengikuti proses panjang yang telah dijalani," ungkap Alit.

Semangat pengabdian ini juga ia salurkan melalui dunia pendidikan, membimbing generasi muda dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah kejuruan (SMK). Kendati demikian, tantangan pelestarian seni tradisional tidak pernah surut.

"Kalau dihitung-hitung, sudah banyak sekali alumni sanggar Kayonan. Saya merasa bangga karena mereka yang sudah belajar di sanggar ini sekarang sudah banyak yang mendirikan sanggar seni juga di Klungkung," terang Alit.

Bagi Alit, upaya merawat minat generasi muda di tengah arus modernisasi serta pendokumentasian karya masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Derasnya pengaruh budaya luar juga menuntut kehadiran nyata pemerintah melalui kebijakan, perlindungan hukum, pembinaan berkelanjutan, serta penyediaan ruang ekspresi yang memadai agar eksistensi kelompok kesenian tradisional tidak tergerus zaman.

"Banyak hal yang mesti dikuatkan oleh pemerintah saat ini dalam upaya mengembangkan kesenian tradisi kita. Kalau hidupnya kita tidak khawatir karena selama masih ada upacara, kebutuhan seni itu sendiri hidup bersamaan. Tinggal bagaimana ini terus diperkuat dengan berbagai upaya nyata dari pemerintah," jelas Alit.