NADIKABAR.COM — Empat senior yang diduga menganiaya prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil Farisa hingga meninggal dunia telah diamankan dan ditahan. Kabar penahanan itu disampaikan keluarga korban yang mendapat informasi dari kesatuan TNI AU.

Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo mengatakan, empat terduga pelaku diamankan oleh Puspom AU. Dia menyebut, informasi penahanan tersebut diterima keluarga sejak awal setelah kejadian penganiayaan.

"Sudah ditahan infonya," ujar Toni kepada NadiKabar Senin (14/9/2026).

Menurut Toni, empat senior yang diduga terlibat dalam penganiayaan Serda Ahmad yakni Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD dan Serda AH. Keempatnya diamankan untuk menjalani pemeriksaan terkait dugaan penganiayaan yang terjadi di asrama di Kompleks Skadron Lanud Halim Perdanakusuma.

"Infonya diamankan saat itu juga pascakejadian," jelas Toni.

Toni kembali menegaskan keempat terduga pelaku telah diamankan. "Betul keempat terduga pelaku tersebut sudah diamankan," papar Toni.

Keluarga berharap proses hukum terhadap kasus kematian Serda Ahmad dilakukan secara tuntas dan adil. Toni juga meminta keadilan kepada Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), hingga pihak yang menaungi kantor tempat anaknya bertugas.

"Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya," kata Toni kepada NadiKabar di rumah duka Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, ungkap Toni.

Serda Ahmad Muzammil Farisa sebelumnya dilaporkan meninggal dunia di asramanya. Sebelum jenazah diterbangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, jenazah sempat diautopsi karena korban meninggal secara tidak wajar.

Toni sebelumnya mengungkap dugaan penganiayaan yang dialami anaknya bermula dari persoalan makanan. Serda Ahmad disebut diminta membeli mi goreng oleh seniornya, tetapi makanan yang dibawa justru mi kuah.

"Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng," tutur Toni.

Persoalan tersebut disebut memicu kemarahan senior di asrama. Menurut Toni, insiden dugaan penganiayaan pertama terjadi pada Rabu malam (9/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Toni mengatakan penganiayaan diduga kembali terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.