Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota dari Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menambahkan ancaman kedua yakni pertumbuhan. Pada usia dini, seharusnya anak belajar tentang keluarganya hingga belajar bagaimana dia berbicara. Namun, waktunya malah habis untuk screen time yang hanya satu arah.
Bahkan, belum tentu kontennya benar sehingga ini membahayakan. Terkadang pula, pada anak-anak yang terlalu banyak screen time terjadi masalah dalam perkembangan baik itu perkembangan bahasa, sosial sampai emosional.
"Kemudian yang ketiga, adiksi karena screen time atau apapun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan. Ini yang disebut dengan dopamine neurotransmitter, dopaminnya yang keluar ini menyebabkan adiksi. Dia ingin melakukannya, melakukannya lagi, dan sulit pada anak-anak (untuk berhenti -- red) tentunya, karena kadang-kadang pada dewasa saja kita sulit menyetop apalagi ini pada anak-anak," tegasnya.