TNI AU menegaskan proses penanganan perkara dilakukan secara profesional dan objektif sesuai ketentuan hukum. Fakta mengenai kronologi kejadian, peran masing-masing pihak, serta penyebab kematian Serda Ahmad masih menunggu hasil penyelidikan.

Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), dan pihak terkait memastikan kasus kematian putranya diproses secara adil dan transparan. Ia berharap dugaan penganiayaan dapat diusut hingga tuntas dan pelaku yang terbukti bersalah mendapat sanksi berat.

"Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya," kata Toni.

"Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional," ujar Toni.

"Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa," imbuh Toni.

Sebelum meninggal, Toni sempat bertemu Serda Ahmad di Jakarta pada Selasa (8/9/2026), ketika sedang menjalankan tugas mendampingi Bupati Madiun H Hari Wuryanto. Pertemuan tersebut menjadi pertemuan terakhir mereka.

"Pertemuan terakhir saya saat ada tugas dinas luar kota saya ke Jakarta kemarin lusa. Kemarin hari Selasa saya ketemu saat saya mendampingi Pak Bupati Madiun kebetulan ada acara di Jakarta," ungkap Toni.

"Tidak mengira pertemuan terakhir," tandas Toni sambil menahan air mata.

Jenazah Serda Ahmad tiba di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan ambulans TNI AU. Setelah disalatkan, jenazah dimakamkan dengan dihadiri keluarga, Bupati Madiun H Hari Wuryanto, jajaran ASN Pemkab Madiun, serta personel TNI AU Lanud Iswahjudi Magetan.