Menurut para ilmuwan China, ular diperkirakan mampu mendeteksi aktivitas seismik 5 hari sebelum gempa terjadi dengan radius hingga 75 mil dari pusat. Mereka akan menunjukkan perilaku abnormal, seperti mengakhiri hibernasi dan menabrak dinding.
Siapa yang tidak kenal dengan hewan berbulu menggemaskan ini? Menariknya, selain sering 'buat masalah' di rumah, kucing juga dianggap mampu mendeteksi gempa, lho!
Dirujuk dari Cat It, sejatinya para ilmuwan belum bersepakat mengenai mampukah hewan berkaki empat ini memprediksi gempa bumi jauh hari. Namun, ada penelitian yang menyebut kucing bisa merasakannya hingga 15 detik sebelum kejadian.
Sebagaimana pembaca ketahui, gempa dimulai dengan gelombang P yang cepat dan halus. Baru setelahnya, gelombang S tiba. Berbeda dari manusia, kucing mungkin dapat merasakan gelombang P tersebut.
Mereka akan bertingkah aneh kala merasakannya. Kucing bisa jadi berlarian panik ke segala arah. Sementara itu, yang lain memilih bersembunyi. Bagi sang pemilik, perilaku aneh ini bisa menjadi peringatan awal untuk segera melindungi diri dari kemungkinan gempa.
Banyak orang menyukai kodok (toad) sebagai hewan peliharaan karena relatif mudah dirawat. Mereka juga tenang dan tidak butuh banyak ruang untuk hidup bahagia.
Berdasarkan laporan The Guardian, sebuah penelitian di Journal of Zoology menunjukkan koloni kodok meninggalkan tempat kawin mereka 3 hari sebelum gempa terjadi di L 'Aquila Italia tahun 2009 silam. Mereka baru kembali ke tempat kawin itu 10 hari setelah gempa, termasuk susulannya, rampung.
Para kodok itu diperkirakan pergi karena mendeteksi gelombang seismik atau kemiringan tanah. Ada juga kemungkinan makhluk tersebut membaca gangguan di ionosfer Bumi.
Menurut laporan Australian Geographic, riset Dr Rachel Grant dan tim yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health menunjukkan kemungkinan lain. Dijelaskan bahwa kodok-kodok itu pergi kemungkinan karena merasakan semacam racun yang terbentuk akibat tekanan bawah tanah intens.