Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pendidikan asal Bandung, Jawa Barat, yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Ia lahir pada 4 Desember 1884 dari keluarga bangsawan Sunda.
Sejak kecil, Dewi Sartika memiliki perhatian terhadap pendidikan anak perempuan. Ia menyadari bahwa perempuan pada masa kolonial sering kali tidak memperoleh kesempatan belajar yang setara dengan laki-laki.
Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan sekolah bernama Sakola Istri di Bandung. Sekolah tersebut awalnya memiliki sekitar 20 murid dan mengajarkan berbagai keterampilan dasar, termasuk membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan rumah tangga.
Seiring perkembangannya, sekolah tersebut mengalami perubahan nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Upaya Dewi Sartika kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan perempuan di Jawa Barat.
Perjuangannya menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kemampuan dan kedudukan perempuan dalam masyarakat.
4. Martha Christina Tiahahu, pejuang muda dari Maluku
Martha Christina Tiahahu dikenal sebagai salah satu pejuang perempuan dari Maluku yang terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda pada 1817. Ia lahir di Nusa Laut sekitar 1800 dan merupakan putri Kapitan Paulus Tiahahu.
Ketika Perang Pattimura berlangsung, Martha turut mendampingi ayahnya dalam perjuangan melawan pasukan kolonial. Saat itu, usianya diperkirakan baru 17 tahun.
Setelah ayahnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Belanda pada November 1817, Martha tetap melanjutkan perlawanan. Namun, ia kemudian ditangkap dan dibawa ke kapal yang akan mengangkutnya ke Pulau Jawa untuk menjalani kerja paksa.
Dalam perjalanan tersebut, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Martha meninggal pada 2 Januari 1818 di tengah perjalanan laut menuju Jawa.
Kisah Martha menjadi gambaran keterlibatan perempuan muda dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Meski usianya masih belia, namanya tercatat dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku. Sejumlah kajian sejarah juga mengingatkan bahwa detail keterlibatannya dalam pertempuran masih memiliki perbedaan penafsiran karena terbatasnya sumber kesaksian langsung.
5. Rasuna Said, menggunakan pendidikan dan pidato untuk melawan penjajahan
Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan tokoh perempuan asal Sumatera Barat yang dikenal melalui perjuangannya di bidang pendidikan, jurnalistik, dan politik. Ia lahir di Maninjau pada 14 September 1910.
Rasuna Said aktif dalam pergerakan nasional sejak usia muda. Ia bergabung dengan organisasi Sarekat Rakyat pada 1926 dan kemudian terlibat dalam Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Salah satu cara yang digunakan Rasuna Said untuk melawan penjajahan adalah melalui pidato dan tulisan. Ia dikenal berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda serta mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kemerdekaan.