NADIKABAR.COM — Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya melibatkan kaum laki-laki yang mengangkat senjata di medan perang. Sejumlah perempuan dari berbagai daerah juga mengambil peran penting dalam melawan penjajahan, memperjuangkan pendidikan, menyuarakan kesetaraan, hingga membangun kesadaran kebangsaan.
Nama seperti Cut Nyak Dhien, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan Rasuna Said menjadi bagian dari sejarah perjuangan tersebut. Mereka menghadapi tantangan yang berbeda sesuai kondisi zaman dan daerah masing-masing. Ada yang memimpin perlawanan bersenjata, mendirikan sekolah untuk perempuan, hingga menggunakan tulisan dan pidato sebagai sarana perjuangan.
Peran perempuan dalam sejarah Indonesia bahkan berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisasi. Kongres Perempuan Indonesia pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada 22 Desember 1928 menjadi salah satu tonggak penting persatuan organisasi perempuan di Tanah Air.
Lantas, bagaimana kisah perjuangan para pahlawan perempuan tersebut dan apa kontribusi mereka bagi Indonesia? Berikut penjelasannya.
1. Cut Nyak Dhien, Pemimpin Perlawanan dari Aceh
Cut Nyak Dhien merupakan salah satu tokoh perempuan yang dikenal melalui perjuangannya melawan kolonial Belanda dalam Perang Aceh. Ia lahir di Lampadang, Aceh Besar, sekitar tahun 1848 dan berasal dari keluarga bangsawan Aceh.
Perjuangannya semakin kuat setelah suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada 1878. Ia kemudian melanjutkan perlawanan dan menikah dengan Teuku Umar, seorang pemimpin perjuangan Aceh.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien terlibat dalam strategi perlawanan gerilya. Setelah Teuku Umar gugur pada 1899, ia tetap melanjutkan perjuangan bersama pasukan yang tersisa meskipun kondisi fisik dan persediaan logistik semakin terbatas.
Belanda akhirnya menangkap Cut Nyak Dhien dan mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat. Ia meninggal pada 1908. Perjuangannya dikenang sebagai bagian penting dari perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme.
2. R.A. Kartini, memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan
Berbeda dari Cut Nyak Dhien yang berjuang melalui perlawanan bersenjata, Raden Ajeng Kartini memperjuangkan perubahan melalui pendidikan dan pemikiran. Ia lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879.
Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan masih terbatas. Kartini melihat bahwa perempuan perlu mendapatkan akses belajar agar memiliki pengetahuan, kemandirian, dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan sosial.
Gagasan tersebut disampaikan melalui surat-surat yang dikirimkan kepada sejumlah sahabatnya di Belanda. Dalam korespondensinya, Kartini membahas pendidikan, kedudukan perempuan, adat, serta ketidaksetaraan yang dialami perempuan pada masa kolonial.
Surat-surat tersebut kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht, yang dikenal di Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Meski tidak sempat menyaksikan perkembangan pendidikan perempuan secara luas, pemikirannya terus menjadi inspirasi bagi gerakan emansipasi dan kesetaraan gender. Arsip surat Kartini bahkan tercatat dalam program Memory of the World UNESCO pada 2025.
3. Dewi Sartika, mendirikan sekolah untuk perempuan