Menurut Rudhy, SPPG Makale Batupapan 1 melayani total 2.200 penerima manfaat MBG dari berbagai sekolah di Tator. Kendati begitu tidak semua penerima manfaat mengalami gangguan perencanaan.
"Dari SPPG-nya mereka menyajikan ayam santan mungkin begitu,tapi tidak semua yang mendapat manfaat itu (diduga mengalami keracunan), hanya dua sekolah," tuturnya.
Rudhy mengungkap, siswa dan guru dari dua SMP yang diduga keracunan sedianya menyantap MBG pada Rabu (2/9). Mereka kemudian mengeluh mengalami gangguan pencernaan sehari setelahnya atau pada Kamis (3/9).
"Artinya bahwa dugaan kalau itu disebabkan oleh makanan MBG, mungkin makanan yang kemarin. Makanan yang dia makan kemarin," uja Rudhy.
Dia melanjutkan, siswa dan guru belum menyantap MBG pada hari dilaporkan diduga keracunan. Pihak SPPG saat itu disebut menyajikan MBG ke sekolah.
"Kita juga belum bisa memastikan, apakah MBG betul (penyebabnya), siapa tahu dia makan bakso atau bagaimana, makanan di tempat lain kita belum tahu," imbuh Rudhy.
Rudhy yang juga Ketua Satgas MBG Tator ini menegaskan, dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa dan guru masih diselidiki. Dia enggan berspekulasi soal MBG diduga menjadi pemicu.
"Kita juga tidak bisa menduga bahwa ini keracunan, mungkin saja ini adalah terkontaminasi oleh bakteri ataukah virus yang menyebabkan diare, mual dan muntah," ungkap Rudhy.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tana Toraja telah mengambil sampel MBG yang sempat disajikan kepada korban. Sampel itu dikirim ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Makassar untuk diperiksa.