"Pilot yang melakukan penikaman itu telah ditangkap dan saat ini sedang diinterogasi oleh otoritas Saudi," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan video.

Dia mengatakan dirinya telah memerintahkan persiapan untuk menghadapi kemungkinan ancaman lebih lanjut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya telah berbicara via telepon dengan Netanyahu soal percobaan pembajakan terhadap penerbangan maskapai flydubai tujuan Israel.

Trump dalam komentarnya, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Kamis (1/10), menilai kopilot yang menikam kapten pilot penerbangan itu dan mencoba membajak pesawat itu sebagai "teroris" atau orang yang "tidak waras".

"Saya sudah berbicara panjang lebar dengan Bibi Netanyahu mengenai peristiwa ini, dan tampaknya kopilot itu mungkin seorang teroris atau mungkin orang yang tidak waras, dan dia menikam pilotnya," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu (30/9) waktu AS.

Trump menyebut insiden itu sebagai "kisah yang luar biasa".

Departemen Luar Negeri AS, dalam pernyataan terpisah, mengonfirmasi pada Rabu (30/9) bahwa empat warga negara AS ada di dalam penerbangan flydubai rute Dubai-Tel Aviv tersebut, yang dialihkan ke Arab Saudi dan mendarat darurat di Bandara Tabuk.

"Kami sedang berkoordinasi dengan otoritas setempat dan siap memberikan bantuan kekonsuleran kepada seluruh warga negara AS yang berada dalam penerbangan tersebut," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan kepada Anadolu Agency.

Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA) Hamad Saif al-Shamsi memerintahkan penyelidikan terhadap upaya pembajakan penerbangan maskapai flydubai tujuan Israel, yang dialihkan dan mendarat darurat di Arab Saudi.

Dalam perintahnya, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Kamis (1/10), Al-Shamsi tidak secara langsung menyebut insiden yang dialami pesawat flydubai dengan nomor penerbangan FZ1073, rute Dubai-Tel Aviv itu, sebagai upaya pembajakan. Dia menyebutnya sebagai pertikaian di kokpit.

Dia memerintahkan pembentukan tim untuk menyelidiki insiden yang melanda penerbangan maskapai UEA tersebut pada Rabu (30/9) kemarin.

Disebutkan bahwa penyelidikan oleh otoritas UEA itu akan memeriksa situasi dan motif kejadian, termasuk apakah insiden itu terkait aktivitas militan atau melibatkan perencanaan maupun arahan sebelumnya.

"Jaksa Agung menginstruksikan agar segala langkah yang diperlukan dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan bukti, menetapkan fakta-fakta, dan menentukan situasi serta motif di balik insiden tersebut," demikian laporan kantor berita UEA, Emirates News Agency atau WAM.

"Sekaligus memverifikasi apakah insiden itu terkait dengan aktivitas atau tujuan teroris, atau melibatkan perencanaan maupun arahan sebelumnya," imbuh laporan tersebut.

Lebih lanjut, Al-Shamsi mengimbau masyarakat untuk "tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi hingga otoritas yang kompeten menyelesaikan upaya pengumpulan dan verifikasi data".

Dia menyerukan publik untuk menghindari pengambilan kesimpulan sebelum penyelidikan rampung dan mengandalkan informasi resmi.

Dalam perintahnya, Al-Shamsi menegaskan bahwa otoritas peradilan UEA memiliki yurisdiksi atas insiden itu karena pesawat tersebut terdaftar di UEA dan beroperasi di bawah bendera negara tersebut.

Ditambahkan bahwa aturan hukum UEA berlaku untuk tindak pidana yang dilakukan di dalam pesawat "meskipun terjadi di luar wilayah negara tersebut".

"Otoritas peradilan UEA memiliki yurisdiksi untuk menyelidiki insiden ini berdasarkan aturan undang-undang yang berlaku, mengingat pesawat itu terdaftar di UEA dan mengibarkan bendera UEA. Dengan demikian, hukum UEA berlaku terhadap tindak pidana yang dilakukan di dalam pesawat, meskipun terjadi di luar wilayah negara tersebut," demikian dilaporkan WAM.