Pada Gunung Sinabung, Ibu, dan Semeru, misalnya, terdapat mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di dalam tubuh gunung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan dan memicu erupsi freatik.
Erupsi jenis ini tidak selalu disertai peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas. Mekanismenya berbeda dengan erupsi magmatik seperti yang terjadi pada Anak Krakatau. Erupsi tersebut berkaitan dengan magma yang memiliki kandungan gas tinggi.
"Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens," kata Doktor lulusan Departemen Earth and Planetary Sciences, Kyushu University, Jepang itu.
Meski masing-masing gunung memiliki sistem internal sendiri, faktor dari luar sistem gunung api juga dapat berperan dalam kondisi tertentu. Indranova mencontohkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki setelah terjadinya gempa di Flores. Peningkatan aktivitas tersebut kemudian diikuti oleh erupsi.
Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut dalam magma. Namun, ia menegaskan mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.
"Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores, mirip seperti pada kasus erupsi Gunung Ruang tahun 2024 yang dibangunkan oleh gempa berkekuatan M 6,5 di sekitar Halmahera," ungkapnya.